Rahasia Bahagia

Bagi Anda Pencari Kebahagiaan Sejati

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘perkawinan’

Resep Perkawinan Bahagia………..

Posted by Siel pada 24 Februari 2011

Suatu ketika saat saya belajar untuk menjadi trainer dari Zig Ziglar, Krish Dhanam, Global ambasaddor dari Zig Ziglar bercerita kepada saya bahwa orang yang dianggap sukses adalah bila dia bukan hanya sukses dipekerjaannya saja tetapi juga sukses dirumah tangganya. Juga dia pernah berucap, bahwa dia mempunyai sebuah kebiasaan yang indah walaupun dia sering keluar kota bahkan keluar negeri tetap saja dia berbicara kepada istri serta anaknya. Bahkan dia selalu mengucapkan I love you setiap selesai pembicaraan di skype.

Saat saya tanya, apakah dia selalu mengucapkan i love you setiap hari? Dia katakan iya, lalu dia bercerita kepada saya kenapa terjadinya sebuah perselingkuhan. Bisa jadi karena pasangan kita kurang mendapatkan kata atau ucapan sayang dari pasangannya.

Berbeda saat pacaran dulu mungkin akan berhamburan kata sayang atau cinta. Tetapisaat menikah … duhhhh beda banget. Dan ada satu kata dari dia yang cukup bagus, kalau anda tidak mengucapkan kata sayang atau cinta maka suatu saat bisa saja tangki cinta dia akan kosong. Na bila tangki cintanya kosong maka bisa jadi ada orang lain yang mengisinya dengan cara mengatakan cinta. Apakah itu sama saja dengan tidak berabe? Gimana kalau akhirnya dia menangapi kata cinta tadi? Wuihhhhh ….. sudah tahu akhir ceritanya bukan J

Dalam buku Zig Ziglar – See you At The Top ada beberapa resep agar perkawinan tetap menjadi bahagia. Caranya bagaimana? Begini caranya:

1. Mengingat ketika masa anda sedang jatuh cinta kepada dia sebelum menikah

Ingatlah ketika masa pacaran dulu, kenapa anda jatuh cinta kepada dia dan anda selalu berusaha untuk menampilkan yang terbaik dari diri anda kepada pasangan anda. Selalu ramah, sopan, penuh perhatian, bijaksana dan baik. Dan untuk mempertahankan rumah tangga, kuncinya adalah kembali ketika masa anda sebelum menikah

2. Perkawinan bukanlah tawaran 50/50 tetapi memberikan komitmen penuh 100/100

Dalam perkawinan anda harus menyerahkan diri anda kepada pasangan anda. Bukan hanya sekedar agar jangan sakit maka saya kasihnya 50 saja dulu. Lah gimana perkawinan mau langgeng kalau persepi diawal saja sudah salah. Ingat loh. Your perception is your projection.

3. Awali dan akhiri kegiatan setiap hari dengan pernyataan cinta bagi pasangan anda.

Awalnya buat saya setelah menikah 5 tahun untuk memulai kata cinta, wuihhh susahnya setengah mati. Bahkan saya ada klien yang mengatakan, gila apa. Gengsi atau norak ngomong cinta. Lah kok bisa gitu? Mentang-mentang sudah jadi milik dipikir ngga perlu ngomong lagi apa? J percaya deh, begitu anda ngomong sayang dan cinta, wuihhh semua berubah deh.

4. Kejutkanlah dia dengan memberikan hadiah atau kartu

Ini juga kejadian dengan saya, kok saya ngga pernah membeli bunga, eh tahu-tahu kasih bunga, dan istri saya sampai senengnya minta ampun. Awalnya dipikir saya nyeleweng ya makanya ngasih bunga hahahaha…. tapi kenyataannya. Sampai hari ini saya setia tuh dengan pasangan saya yang cantik ini.

5. Nikmatilah waktu bersama dengan dia yang bermutu

Setelah saya menikah 6 tahun, saya menyadari bahwa saya perlu mempunyai kualitas waktu yang berharga dengan istri. Dan menariknya dalam masa sekitar 3 jam itu bersama istri saya, wuihhh berasa kembali ketika masa pacaran dulu. Ingat, kalau jalan-jalan pakailah baju yang terbaik jangan daster yahhh

6. Cobalah menjadi pendengar yang baik

Pendengar yang baik tidaklah terlalu mudah, apalagi maunya bawaannya kalau ngga proteksi malah ngasih nasehat. Kadang pasangan kita ngga membutuhkan nasehat kok. Dia hanya membutuhkan kita untuk mendengarkan dia saja. Coba sekali-kali tahan nafas anda begitu ada kata yang mau keluar dari mulut anda.

7. Jangan buat pasangan anda sebagai pesaing terhadap anak anda untuk mendapatkan perhatian anda

Na, alasan klasik biasanya kalau diajak keluar adalah jangan deh, ajak anak-anak. Kasian deh, ajak merekalah. Lah kalo begini terus. Gimana mau mesra? Ingat, pasangan anda tetaplah manusia yang butuh diperhatikan. Ingat woii, isi tangki cintanya. Siapkan waktu untuk mereka.

8. Apabila terjadi perbedaan paham, itu boleh-boleh saja tetapi anda tidak boleh marah

Marah boleh, beda paham boleh tetapi tetap pegang kata bahwa perbedaan paham itu tidak akan membuat menjadi kata cerai. Kebanyakan perkawinan adalah paling enak ngomong cerai. Jadi hold your breath dan jangan langsung keluarkan kata cerai.
Ingat, semua perbedaan itu pasti mempunyai maksud baik. Hanya mungkin caranya saja yang berbeda.

9. Ingatlah bahwa keluarga harus mempunyai pemimpin yang akan mengambil keputusan walau dalam keadaan sulit sekalipun

Dalam suatu perjalanan rumah tangga kadang sering adanya suatu kondisi yang membutuhkan keputusan. Dan ayah sebagai pemimpin rumah tangga, haruslah bertanggungjawab sebesar-besarnya demi mempertahankan rumah tangga dan buatlah keputusan apapun berkaitan kondisi keluarga dan doakan hasilnya kepada Tuhan.

10. Anda harus berupaya habis-habisan untuk menyenangkan atau memahami pasangan anda

Awalnya saya pernah mendengar yang namanya cinta tanpa syarat. Saya pikir ahhhh teori. Nggak mungkin. Tetapi setelah berjalan 7 tahun menikah, saya akhirnya menemukan arti sesungguhnya cinta tanpa syarat. Cinta tanpa syarat artinya kita menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita apa adanya. Bahkan biar istri saya bangun siang, ngga bisa masak, ngga bisa dandan tetap saja dia adalah istri saya yang saya pilih menjadi pasangan hidup saya. Dan yang paling penting, jangan dengarkan pihak ke tiga yang kadang semakin memperkeruh kondisi keluarga. Belum orang tuanya ngomong, enak aja anak gue diginiin, ngga bisa harus melakukan ini dan itu. Saya sarankan, jangan didengarkan. Ingat anda yang menikah. Bukan orang ketiga tersebut yang menikah. Alasan anda menikah dulu saya yakin pasti kuat bukan?

11. Cobalah resep cinta : 1 cangkir cinta, 2 cangkir kesetiaan, 3 cangkir kesediaan memaafkan, 1 cangkir persahabatan, 5 sendok harapan, 2 sendok kelembutan, 4 liter iman dan 1 barel tertawa.

12. Hendaklah kamu selalu ramah terhadap pasangan anda, penuh kasih mesra dan saling memaafkan

Apakah susah kita bergandengan tangan? Atau memeluk saat jalan? Bahkan saya pernah melihat ada seorang suami istri yang sudah punya 2 orang anak masih
pangku-pangkuan didepan umum. Iri bukan kalau kita melihatnya? Kenapa anda tidak melakukannya? Biarkan orang lain iri melihatnya hahahaha..

 

13. Berdoa bersama-sama

Ajaklah pasangan anda selalu berdoa atau bersembayang bersama. Karena konon Tuhan lebih mendengarkan orang berdoa kalau dalam keluarga itu mau berdoa dan bersembayang bersama-sama. Dan ini menjalin hubungan mesra dengan sang Pencipta.

14. Ingatlah selalu, apabila terjadi pertengkaran yang tidak terhindarkan. Siapa yang memulai untuk menyelesaikannya tidaklah penting.
Namun orang yang memulai itu memperlihatkan kematangan dan cinta yang lebih besar

Dah, jangan gengsi-gengsian. Buruan deh meminta maaf atau menyelesaikannya. Kadang kita suka egois, ngga mau ah. Ngapain gue minta maaf, lah dia yang mulai. Ngga mau. Harga diri gue bisa rusak. Lah ini bukan masalah harga diri tetapi masalah kelangsungan rumah tangga bukan? Bukankah lebih baik manusia itu selalu berpasang-pasangan? Apalagi bisa dengan satu pasangan yang sama. Wuihhhh indahnya bukan?

 

Diambil dari : Antonius Arif
School of Mind Reprogramming

Ditulis dalam Ikatan, Pasutri, Rahasia Kebahagiaan, Tik Tak Tips | Dengan kaitkata: , , , , | 12 Comments »

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Posted by Siel pada 11 Oktober 2009

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak  hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.


Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar. Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.


Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik! Dengan mimik tidak senang saya berkata :  apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat
tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap
berkata begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya? Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam
perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.  terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama. Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?


Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu?.dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat. Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan. > Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.


Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota .

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan
kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan,
kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai
bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga
sudah kecewa dan hancur.

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang
pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

Diambil dari : Berbagai Sumber

Ditulis dalam Ikatan, Pasutri, Rahasia Kebahagiaan | Dengan kaitkata: , , , | 3 Comments »

Bagaimana mengatur konflik dalam berumah tangga……..

Posted by Siel pada 26 Juni 2009

Memupuk masalah menuai konflik

Hidup berumahtangga tanpa konflik ibarat masakan tanpa garam, kata sebagian orang. Konflik adalah bumbu kehidupan, kata sebagian yang lain. Masakan tanpa garam, apalagi tanpa bumbu tentu hanya menyajikan citarasa hambar yang tidak menarik.

Namun, mengapa konflik sering merusak hubungan sesama manusia?

Apakah ini berarti sebagai koki kehidupan pelaku konflik tak pandai meracik bumbu?

Rasa kesal, kecewa, tak suka, tak setuju, pun tak sependapat bukan hal aneh dalam hidup berumah tangga. Mengingat pernikahan adalah bersatunya dua kepribadian unik yang dibesarkan secara berbeda pula, mencari suami atau isteri yang seia-sekata, satu selera, gaya dan perilaku mustahil pula untuk dilakukan.

Berkenaan dengan itu, Yati Utoyo Lubis, MA, psikolog klinis dari Universitas Indonesia menyebutkan bahwa sebuah rumahtangga memang memiliki potensi besar menjadi lahan subur konflik. Betapa tidak, dua kepribadian yang berbeda hidup berdampingan bertahun-tahun dalam satu atap, tak jarang hingga akhir hayat.

Namun, punya potensi konflik tak lantas berarti harus berkonflik, karena manakala ditata dengan baik, masalah dalam rumahtangga justru bisa berakhir dengan indah tanpa harus timbul konflik.

Karena itu, kapan suatu masalah dapat muncul menjadi konflik?
Bila sudah muncul dua niat, dua tujuan atau dua harapan yang berbeda, yang sudah bertentangan diantara masing masing kepentingan, yang tidak terpecahkan ? ujar Yati.

Sementara, konflik sendiri diartikan sebagai level lanjutan sebuah problem rumah tangga. Bila sekedar merasa ada perbedaan, kesenjangan, maupun perasaan-perasaan tidak nyaman, sesungguhya hal itu baru merupakan sebuah problem pribadi, namun bila problem yang dirasakan ini tak segera ditangani, ia akan berubah menjadi konflik.?

Satu indikasi yang mudah untuk menunjukkan adanya konflik dalam rumah tangga adalah, manakala komunikasi diantara suami isteri tidak berjalan, dan pola ineteraksi yang terbangun diantara keduanya memiliki kondisi  yang menegangkan. Ketika salah satu dari pasangan mencoba bicara namun berakhir pada pertengkaran atau tanggapan-tanggapan yang pedas, sinis atau sarkastik, itu juga menunjukkan bahwa mereka tengah membutuhkan emergency exit yang amat segera.

Sebab mendasar dan sebab lanjutan

Banyak sebab terjadinya konflik suami isteri, Yati Utoyo Lubis merincinya menjadi konflik dengan alasan ekonomi, keluarga besar, orang ketiga, anak hingga perbedaan-perbedaan kecil yang biasa terdapat pada diri kedua belah pasangan. Namun, meski mengakui adanya sebab-sebab dengan alasan tersebut. Ada akar permasalahan yang lebih mendasar dari munculnya konflik suami isteri yaitu soal niat, tujuan dan orientasi pernikahan yang belum beres.

ketentraman rumah tangga sudah menjadi satu paket dengan keberlangsungan pernikahan sejauh pernikahan itu dijalani atas dasar niat, tujuan dan orientasi pernikahan yang benar. Sehingga,  manakala ketentraman hilang dari dalam rumah tangga kita, terlebih dahulu periksalah hal-hal yang menyangkut soal niat, tujuan dan orientasi pernikahan. Masihkah berada pada rel kebenaran?

Setelah sebab mendasar ini, penyebab utama konflik yang nampak paling dominan, adalah soal komunikasi. Baik yang tersumbat dalam melakukan komunikasi, tidak berani melakukan komunikasi maupun yang melakukan komunikasi tetapi merasa terpaksa. Sering terjadi, pasangan suami isteri tidak mampu mengungkapkan rasa tidak suka, cemburu, tidak setuju dan sejenisnya dengan cara yang tepat. Padahal,  kita harus memiliki satu prinsip berkomunikasi yang meletakkan penghormatan, perhatian, respon dan kemesraan dalam hal mengungkap pesan atau sebaliknya menangkap pesan. Sederhananya ia berkata, Bila penghormatan dan perhatian hilang, bersiaplah menyambut hari-hari panjang penuh konflik dan penderitaan.

Terakhir, konflik juga bisa timbul karena adanya pola interaksi yang tidak baik, berati kita telah kehilangan satu pola komunikasi yang baik. Bila kualitas komunikasi dan pola interaksi suami isteri baik, maka masalah yang timbul dapat segera diatasi sehingga tidak menjadi konflik.  Itu hanya menjadi suatu problem saja.

Perlu kemauan tinggi

Meski tidak dianjurkan memelihara konflik, pasangan suami isteri tak perlu takut terlibat konflik. Yang penting mereka siap mengatur konflik agar bisa teratasi dengan baik.

Konflik justru bisa bermakna positif dalam hidup seseorang, yaitu jika ia mampu meningkatkan kematangan hubungan suami isteri. Namun konflik bermakna positip ini adalah konflik yang kemunculannya adalah untuk dihadapi, diatur secara santun, dan bukannya dihindari atau malah diumbar dalam bentuk konflik terbuka.

Mengingat faktor utama yang mendorong timbulnya konflik adalah soal kegagalan berkomunikasi, maka berkomunikasi atau memperbaiki komunikasi juga menjadi solusi utama. Sayangnya beberapa orang mengaku tidak mampu lagi berkomunikasi dengan pasangannya. Dan ini adalah satu hal yang ditentang oleh psikolog Yati Utoyo Lubis.

Setiap orang pasti bisa berkomunikasi, tegas Yati. Memang ada orang yang belum apa-apa sudah bilang tidak bisa berkomunikasi, padahal menurut saya itu nonsens. Kenapa? “Karena komunikasi itu sesungguhnya bukan soal tidak bisa tetapi tidak mau” tambahnya.

Bisa juga terjadi, problem yang ada dipendam dan ditumpuk atau kemarahan dibiarkan berlarut-larut tanpa dikomunikasikan sehingga munculah ketakutan yang semakin besar untuk mengungkapkannya. Ketakutan ini lantas saja dianggap sebagai ketidakmampuan.

Mengatasi soal hambatan berkomunikasi ini,  bagi pihak yang merasakan ada masalah untuk segera membuka diri tanpa menunggu pihak lain menjadi peka atau berharap pasangan sudah paham dengan sendirinya.

Anak-anak paling menderita

Bagi pasangan yang tidak berani menghadapi konflik, ingatlah bahwa dampak adanya konflik sangat luas dan menyakitkan, baik bagi kedua pasangan, keluarga besar dan terutama bagi anak-anak. Jadi suami, isteri dan anak-anak adalah pihak yang dirugikan dalam hal konflik yang tidak segera diatasi.

Suami atau isteri bisa merasa skeptis dan apatis terhadap tindakan, pemikiran ataupun perasaan pasangannya. Belum lagi jika selama ini yang muncul dalam komunikasi suami isteri adalah gaya menekan atau meremehkan, maka yang mungkin terjadi adalah munculnya rasa minder, inferior serta tidak percaya diri pada diri pasangan yang kerap diremehkan.

Bagi pasangan yang kerap diabaikan, dibentak atau mendapat tekanan dalam berkomunikasi, sangat mungkin muncul depresi yang sangat mempengaruhi kondisi kesehatan mentalnya. Bila pasangan sudah merasa tidak bahagia, dia dapat bersikap masa bodo, tak lagi berkeinginan memperbaiki hubungan atau bahkan, merasa putus asa.

Begitupun sebagai manusia dewasa, pasangan suami isteri masih punya kesempatan memilih sikap atau mengambil jalan keluar. Entah dengan mencari solusi, memohon bantuan, tidak ambil peduli atau bercerai. Sementara bagi anak-anak, konflik orangtua yang tidak terselesaikan hanya berujung pada satu kata “menderita“.

Bagi anak-anak ada tigal hal yang mungkin terjadi seiring berlarutnya konflik orangtua.

Pertama, minimal mereka kehilangan kesempatan bermain dengan orangtuanya yang tengah berkonflik.

Selanjutnya mereka akan mendapati kurangnya perhatian orangtua pada mereka karena disibukkan dengan konflik dan,

tingkat lanjutannya adalah manakala anak sampai mengalami child abuse (penyiksaan) baik yang berkonotasi fisik, sebagai pelampiasan kemarahan orangtua, atau penyiksaan psikis dan verbal.

Karena itu, sebelum konflik suami isteri memakan korban, segeralah mengambil tindakan. Kelola masalah dan atasi konflik dengan cepat dan tepat.

Diambil dari : tentang-pernikahan.com

Ditulis dalam Ikatan, Pasutri, Rahasia Kebahagiaan | Dengan kaitkata: , , | 2 Comments »

Aneka Ria Perkawinan……..

Posted by Siel pada 20 Juni 2009

Ada dua pilihan dalam hidup:
Melajang dan hidup amburadul, atau
Menikah dan akhirnya ingin bunuh diri

Pernikahan bagaikan rame-rame ke restoran:
anda pesan makanan kesukaan anda,
tetapi ketika pesanan datang dan anda melihat makanan pesanan teman anda, anda justru ingin makan yang itu.

Pada suatu pesta perkawinan,
seorang nyonya bertanya kepada nyonya yang
lain: “Kok kamu pakai cincin kawinmu di jari yang salah?”.
Jawabnya: “Biarin aja, aku juga kawin dengan laki-laki yang salah, kok!”

Seorang wanita memasang iklan:

“Dibutuhkan seorang suami”. Keesokan harinya ia menerima ratusan surat . Isinya semua sama: “Ambil saja suami saya”.

Kalau suamimu diambil wanita lain,

tidak ada cara lain yang lebih sadis untuk membalas dendam: biarkan dia memilikinya.

80% pria yang menikah,

berselingkuh di Jakarta . Yang 20% berselingkuh di Puncak.

Laki-laki belum lengkap jika ia belum menikah.

Setelah itu .. Habislah riwayatnya.

Anak laki-laki: “Ayah, katanya di desa laki-laki tidak mengenal isterinya sebelum malam perkawinan?” .
Ayah: “Itu sih di mana-mana, bukan hanya di desa”

Seorang isteri berkata pada kawannya: “Sayalah yang membuat suami saya milyuner”.
Kawannya beranya: “Memangnya sebelumnya dia apa?”
Jawab: “Trilyuner”.

Perkawinan adalah keunggulan khayalan atas akal sehat. Perkawinan kedua
adalah keunggulan harapan atas pengalaman.

Kalau anda ingin pasangan anda mendengarkan dan memperhatikan setiap kata-kata anda, berbicaralah ketika tidur.

Setelah betengkar tentang masalah anggaran rumah tangga, suami berkata:
“Makanya, kalau kamu bisa masak, kan kita bisa PHK tukang masak kita”.

Isteri: “Oh, ya? Coba kalau kamu pandai main seks, kita bisa PHK supir dan
tukang kebun kita!”

Hasil survey: ketika sedang ML, kebanyakan suami berkhayal bahwa isterinya
tidak sedang berkhayal.

Definisi perkawinan menurut para suami: Suatu cara yang paling mahal untuk
mendapatkan cucian gratis.

Suami I :”Isteriku benar-benar seorang bidadari”.
Suami II: “Kamu beruntung, isteriku masih hidup!”

Mengapa wanita telah kawin lebih berat daripada wanita single ?
-Wanita single pulang rumah, menengok apa yang ada di lemari es dan pergi ke
tempat tidur.
-Wanita telah kawin pulang rumah, menengok apa yang ada di tempat tidur dan
pergi ke lemari es.

Seorang anak laki membuka celananya dan dengan bangga bertanya kepada
seorang anak perempuan : “Apakah kamu punya ini ?”
Anak perempuan itu membuka roknya dan menjawab:” Ibu saya bilang, Kalau  kamu punya ini, kamu bisa mendapatkan banyak yang seperti itu.”
“Jangan sombong !” Protes si anak laki, “tanpa yang seperti ini, punya Kamu
itu tidak mungkin bisa mendapatkan yang seperti ini.”

Marriage is not a word. It is a sentence—- a life sentence.

Marriage is very much like a violin; after the sweet music is over, the strings are attached.

Marriage is love. Love is blind. Therefore, marriage is an institution for the blind.

Marriage is an institution in which a man loses his Bachelor’s Degree and the woman gets her Masters.

Marriage is a thing which puts a ring on a woman’s finger and two under the man’s eyes.

Marriage certificate is just another word for a work permit.

Marriage is not just a having a wife, but also worries inherited forever.

Marriage requires a man to prepare 4 types of “rings”:
* The Engagement Ring
* The Wedding Ring
* The Suffe-Ring
* The Endu-Ring

The Math of Life
Smart man + smart woman = romance
Smart man + dumb woman = pregnant
Dumb man + Smart woman = affair
Dumb man + dumb woman = marriage

10 HUKUM PERNIKAHAN BAHAGIA
1. Jangan marah pada waktu yang sama.
2. Jangan berteriak pada waktu yang sama, kecuali rumah kebakaran.
3. Kalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang.
4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih.
5. Lupakanlah kesalahan masa lalu.
6. Boleh lupakan yang lain, tetapi jangan pasangan Anda.
7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam.
8. Seringlah memberikan pujian kepada pasangan Anda.
9. Bersedia mengakui kesalahan.
10. Dalam pertengkaran, yang paling banyak bicara dialah yang salah

Diambil dari : Berbagai Sumber

Ditulis dalam Dewasa, Humor | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Apa yang Paling Penting dalam Perkawinan?

Posted by Siel pada 12 Juni 2009

Apa yang Paling Penting dalam Perkawinan?
–Anwar Holid

Suatu hari, aku pernah tanya seorang kawan:  “apa yang paling penting dalam perkawinan?”

Dia jawab: kebersamaan. Entah kenapa, aku langsung tertawa mendengar jawaban itu.

“Memang, menurut kamu apa?” balas dia.

“Menurutku, penghasilan, mendapatkan nafkah.”

Entah kenapa aku cukup yakin dengan jawaban itu. Boleh jadi dalam bayanganku waktu itu ialah aku teringat acara fauna di televisi. Acara itu menayangkan seekor serigala jantan membawa mangsa untuk keluarganya. Mangsa itu dia cengkeram kuat-kuat dengan mulutnya, lantas dia persembahkan pada anak-anak dan pasangannya. Setelah itu dia memperhatikan mereka berebut makanan yang dia bawa. Terdengar narasi: Pasangan dan anak-anak serigala itu senang bahwa dia pulang dengan selamat; tapi ia tahu mereka jauh lebih mengharapkan makanan yang dia bawa daripada kehadiran dirinya sendiri.

Terdengar ironik?

Meskipun cukup yakin bahwa yang paling penting dalam perkawinan ialah penghasilan, aku pada dasarnya sulit memutlakkan jawaban itu. Boleh jadi sebagian orang akan bilang bahwa yang paling penting dalam perkawinan itu ialah cinta, kasih sayang. Ha ha, dalam rumah tangga kasih sayang menurutku sudah jadi terlalu basi. Cinta dan kasih sayang sudah harus selesai sejak jauh-jauh hari sebelum pasangan menikah dan membangun rumah tangga. Tanpa itu, rumah tangga dan perkawinan berarti sia-sia.

Dulu, rasanya heroik dan menakjubkan kalau kita mendengar bahwa ada orang yang bisa hidup dengan cinta. Bisakah orang hidup dengan cinta? Nggak. Orang hanya bisa hidup dengan makanan. Tapi entah kenapa kita kok merasa agak yakin bahwa cinta bisa menyelesaikan segala-galanya. Boleh jadi memang begitu, sebenarnya, terutama orang yang terbutakan oleh cinta. Perhatikanlah perceraian suami-istri atau perpisahan sepasang kekasih, terlebih bila perpisahan itu disertai keributan, termasuk sekalian dengan kekerasan dan kemarahan yang kadang-kadang terlalu sulit dipadamkan. Kalau kita menyaksikan hal seperti itu, entahlah ada di mana cinta yang pernah tumbuh di dalam diri mereka berdua itu. Cinta jadi terasa sebagai omong kosong. Dari perceraian, ribut-ribut, cekcok, dan pertengkaran, kita tahu bahwa cinta adakalanya gagal berfungsi untuk menyelesaikan segala-galanya, dan yang tersisa hanyalah rasa sebal, jengkel, atau kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.

Di dalam perkawinan, cinta melebur ke dalam segala sesuatu, hingga ia menyelimuti atau membentengi kehidupan pasangan; tapi karena itu pula ia menjadi gaib, dan kadang kala bila sedang diperlukan ternyata ia tak segera menampakkan diri. Akibatnya, pasangan jadi kehilangan kesabaran dan menuduh dia tak lagi punya cinta. Perhatikanlah konsultasi perkawinan di media massa. Dari sana kita belajar bahwa persoalan perkawinan bisa diakibatkan hal yang sangat sederhana (misalnya kebiasaan pasangan yang ternyata lama-lama sulit diterima) maupun hal yang berat (misalnya pasangan melakukan tindak kriminal, selingkuh, berbohong, berubah orientasi seksual, atau sakit jiwa.) Kita tahu dalam perkawinan bobot masalah “sederhana” dan “berat” ternyata sama saja. Masalah adalah masalah, dan ia harus diperhatikan, sebab kalau tidak akibatnya bisa fatal.

Begitu juga dengan penghasilan. Bisakah Anda mencari contoh pasangan yang kehidupan perkawinannya baik-baik saja meski tanpa penghasilan atau tak punya nafkah? Mungkin itu akan bisa mematahkan pendapat awal. Tapi mungkin sedikit lain soalnya bila pasangan itu punya warisan atau diberi kekayaan yang terus tersedia cukup meskipun dia sekadar menghabiskan dan tak perlu kerja. Tapi dengan perilaku begitu pun bisa jadi pasangannya mengeluh, sebab kerjanya hanya “menghabiskan harta orangtua” dan terkesan malas-malasan. Boleh jadi pasangan tanpa mata pencaharian itu merupakan aib. Bayangkanlah Anda melamar seorang gadis dalam keadaan nganggur atau bila suatu hari yang akan datang anak gadis Anda dipinang pemuda pengangguran. Beranikah Anda mengizinkan anak gadis Anda kepada pemuda itu? Sehina apa pun pekerjaan Anda, Anda menolak bila mereka meremehkan pekerjaan Anda. Pekerjaan itu sesuatu yang mulia.

Demi penghasilan, sepasang suami-istri rela berpisah, mau menjalani jadi weekend husband/wife, atau bahkan merantau ke luar negeri. Dulu, aku sendiri pernah menjadi seorang weekend husband. Bila weekend husband/wife sudah dianggap lazim dalam kehidupan modern, kini tanyalah pasangan yang hanya ketemu sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau bahkan setahun sekali. Jelas karena tidak mengalami, rasanya aku sulit berempati kepada pasangan yang hanya ketemu sebulan, tiga bulan, atau setahun sekali. Buat apa dong mereka dulu memutuskan menikah? Bukankah mereka menikah untuk “bersatu”, berdekat-dekatan? Wajarkah pasangan mengorbankan kebersamaan demi mendapat nafkah, meskipun aku menyatakan penghasilan merupakan hal paling penting dalam perkawinan? Rasanya absurd. Tapi sekali lagi, bayangkanlah bila tanpa itu semua mereka tak punya penghasilan, atau itulah satu-satunya cara mereka mendapat nafkah. Kalau sudah begitu, apa boleh buat. Kita hanya bisa maklum dan
ikut berdoa supaya mereka selamat. Daripada bersatu tanpa penghasilan?

Orang menempuh berbagai mode untuk mendapat nafkah. Ada yang normal dan abnormal. Ada kalanya seseorang tak tahu persis apa pekerjaan pasangannya; tapi selama ada penghasilan, aku berani bertaruh itu akan baik-baik saja. Tanyalah pada istri para kriminal, koruptor, atau pembunuh bayaran. Mereka tentu bakal terkejut bila dibenturkan pada fakta bahwa nafkah yang selama ini mereka terima ternyata hasil dari kejahatan atau uang haram, lantas mereka bersikap tak mau tahu atau malah ingin cuci tangan secepatnya. Tapi selama tak tahu, mereka akan baik-baik saja, dan yakin sebagaimana pasangan normal lain, nafkah itu berasal dari cara yang baik.

Bila menyangkut penghasilan, orang bisa begitu emosional dan irasional. Kita sulit mengira-ngira sampai sejauh apa orang merasa bangga, baik-baik saja, terpaksa, atau rela menjalani profesinya. Boleh jadi orang bangga dengan profesi sebagai pembunuh bayaran. Siapa tahu. Bintang porno di AS bangga kok dengan profesinya. Apa sebab? Karena mereka juga bayar pajak, berpartisipasi dalam pembangunan sosial. Itu mulia. Kita yang tak mengalami mungkin bisa menertawakan atau menganggap hina kerja sebagai bandar judi, pembuat narkoba, direktur klub malam, tukang sampah, mucikari, atau bandar narkoba. Tapi kalau penghasilannya melimpah ruah, Anda mau apa? Pendapatan itu nyata. Lihatlah di jalanan, lihatlah di tempat kerja, di lapangan. Begitu menyangkut pendapatan, nyawa taruhannya. Kadang-kadang orang masih merasa kurang dengan sekadar mengandalkan kekuatan fisik. Perhatikanlah cara kerja debt collector atau tukang sita.

Pasangan pengangguran tentu sulit diterima. Jangankan penganggur, pasangan dengan penghasilan setara, tampak kurang motivasi, atau kurang berkenan saja bisa bermasalah. Dunia adalah tempat yang sulit dan keras. Nggak ada tempat buat pemalas, atau kalau tidak berubahlah jadi orang ikhlas, yang bisa bersyukur dan menerima segala keadaan. Kita dituntut menghasilkan nafkah dengan memanfaatkan segala kemampuan dan kesempatan yang memungkinkan. Dengan itulah kita memelihara perkawinan, kebersamaan, menjalankan roda kehidupan, memastikan bahwa dua puluh empat ke depan—atau beberapa tahun ke depan—keadaan cukup bisa dipastikan kesejahteraannya.

Tapi kenapa pasangan dengan nafkah berkecukupan pun kehidupan perkawinan mereka bisa hancur-hancuran? Tentu ada faktor lain entah apa lagi. Aku juga bukan ahli perkawinan. Itu menunjukkan walaubagaimanapun penghasilan ternyata bukan satu-satunya faktor paling penting dalam perkawinan. Jadi apa dong? Mungkin ada jawaban lain, yaitu keikhlasan.

Sementara keikhlasan butuh permbicaraan baru lagi.

Anwar Holid telah menikah sepuluh tahun dengan Fenfen, dikaruniai dua anak.

Jadi apakah jawaban menurut anda ?

Catatan : Cerita ini saya ambil dari email deorang teman, namun  mungkin dari sepenggal cerita ini dapat menjadi renungan yang baik bagi anda sekalian yang sudah berpasangan maupun akan berpasangan.  Semoga Bahagia selalu. ^^

Ditulis dalam Ikatan, Pasutri, Rahasia Kebahagiaan | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Apa itu Cinta ? Apa itu Perkawinan?

Posted by Siel pada 11 Juni 2009

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya” Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya? “

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.

Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

CATATAN – KECIL :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.
Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, Karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Diambil dari : berbagai sumber

Ditulis dalam Rahasia Kebahagiaan | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.