Rahasia Bahagia

Bagi Anda Pencari Kebahagiaan Sejati

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘rumah tangga’

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Posted by Siel pada 11 Oktober 2009

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak  hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.


Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar. Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.


Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik! Dengan mimik tidak senang saya berkata :  apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat
tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap
berkata begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya? Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam
perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.  terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama. Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?


Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu?.dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat. Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan. > Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.


Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota .

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan
kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan,
kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai
bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga
sudah kecewa dan hancur.

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang
pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

Diambil dari : Berbagai Sumber

Ditulis dalam Ikatan, Pasutri, Rahasia Kebahagiaan | Dengan kaitkata: , , , | 3 Comments »

Apa yang harus anda lakukan dengan keuangan keluarga ?

Posted by Siel pada 13 Juli 2009

Surat dari seorang teman,

Mb Dina,

Boleh sharing sdikit, dari sgelintir pengalaman pribadi sy. Wkt menikah, sy aware kl gaji mantan suami sy lbh kecil dr sy, bs separohnya sndiri. let say,  ia 1jt, sy 2jt. dan dia jg aware dgn keadaan spt ini.

Slama perkawinan kami, alhamdulilah dia sll ksh full gaji+slipnya ke sy. klpun ada sambilan, sy sll blg keep aja deh buat km jajan. in return, tiap 2mggu sekali (bersyukur wkt itu dia gajian 2minggu skali :D), sy ksh report keuangan. kl cm dikit ya sbln skali aja.

blnja bulanan ?

bayar tagihan2 ?

bayar cicilan ?

tabungan ?

dana utk liburan/rekreasi ?

ini wajib – krn kt bekerja psti butuh refreshing. at least 2mggu skali pergi kencan bdua, n 1minggu skali sm anak2. ga perlu mewah2 tp ckup educatif dan menghibur. untuk sy ckup beruntung tgl didaerah yg msh diblg kampung, jd sifat matre krn liat teman2nya py sesuatu tdk ada di anakku hehe..

dana emergency – sakit, dll ?

Jujur smua itu sy ambil dari gajinya dia, cm kl ada sesuatu yg ingin sy tmbhkn, mis.blnja bulanan ingin bli sesuatu utk keindahan rmh – beli gorden mis.nya, biasanya sy tmbhkn dgn gaji sy. itu jg wlpun tdk blg ke suami, tp dia aware krn dipembukuan tdk ada pengeluaran itu yg mana otomatis ambil dari uang sy.

tp dia ckup malu utk blg mi, nti aku ganti ya..wlpun gantinya tdk melulu uang, surprise kencan ato apalah – cukup membuat sy bahagia.

Mb Dina, kita sbg manusia hidup didunia yg serba modern n hightech, memang rasa egois, selfish, keinginan yg tdk ada pernah cukup sll akan menghinggapin diri kt.dan itu manusiawi bgt.

sbg contoh:

dgn gaji 500rb – aku cm hnya mampu skolahin anakku di SD negeri aja (bukan mendiskritkan SD Negeri ya..punten.. ) tp bgitu naik jabatan ato naik gaji – otomatis dunk, pgn anak kt punya pendidikan yg lbh baik. masukkanlah anak kt ke sekolah swasta. benar?!..

eh..d tengah tahun, bnyk sambilan2 yg kira2 tdk bs dianggap sbelah mata, yg mana bs utk tambahan uang pokok kt. – mulai lg kt berpikir..

hm..skolah yg agak disiplin spt semi pesantren boleh juga tuch..scra kt berdua sibuk. dan dari pada anak kelamaan drmh sm pembantu, lbh baik disekolah semi pesantren yg mana pendidikannya full komplit, ada arab, inggris, indonesia, komputer dll..why not dunk..positifnya bnyk berteman n belajar scr educatif n games dgn didikan scr agamis,wlpun tdk menutup pendidikan drmh jg sangat penting..

Nah mb Dina, dari contohku diatas bs diliatkan, semakin tinggi jabatan/pemasukan income kita, smakin tinggi pula pengeluaran yg ada.sdh tdk perlu belajar ekonomi utk mengetahui ini hehe.. gajiku sdh 10-15jt (contoh lho..), ga mungkin dunk anakku cm num susu yg murahan ato skolah di SD murahan?

kata2 itu pasti sering jg kan kt dengar dan itu pasti terjadi dibnyk kehidupan RT jaman skrg..bnr jg gak??? again gengsi berbicara…

Skrgpun sy sdh jadi single parents, kebutuhan2 tersebut diatas tdk berubah dratis. sy alhamdulilah tetap bs menjadi kepala kluarga utk anak, ibu, dan adik sy yg msh kuliah. memang hal2 yg sifatnya tertier (ato kbutuhan pribadi) tdk sll dipenuhi hehe..

Dan mungkin ada sedikit sharingku aja. jangan malu utk bertanya oportunity apa yg bs kt kerjakan slain kerja kantoran.dulu utk beli susu aja sy mesti jualin baju2 bekas sy. sy cuci, dibnerin kl ada kancing copot ato jaitan yg lepas.t rus sy dagangin diminggu pagi buka lapak utk org2 yg lari pagi..awalnya si ada rasa malu ya, tkt ada yg ngliat. jd mesti kyk steve wonder pake kaca mata item sgala hahaha.. kok lama2 diliat seru jg ya.. jualan baju bekas sy drpd menuh2in lemari hehe.. kbetulan sy hobi blaja wkt itu hehe.. miss matching kt temen2 sy hehe..”mumpung diforum narsis dikit akh :D”

6bln awal sy dagang baju2 bekas sy.. hasil uang sdh bs utk bermodal utk beli baju baru istilah kerennya sie kulakan ya hehe.. skrg mlh sdh merambat jualan baju anak2.. wah smakin sibuk aja aktifitas sy. senin-jumat kerja ktrn.. sabtu ke supplier ambil bj trus minggu jualan.. spy muter cepet sy jg coba iklan di web. memang jdnya anak terlantar, tp tdk jg kok.. sabtu kl dia mau sy ajak ikut betapa susahnya maminya cari uang, ini jg pelajaran buat sikecil utk lbh menghargai mainannya dan arti mahal dan murah hehe.. trus kl minggu dia ikutan jualan panas2.. tante. .mari liat baju jualan mami ade..begitu teriaknya hehe..

at least ada sdikit didikan yg sy ajarkan disitu ke anak sy. wah..wah jd nglantur kmn2 ya..dari problem mb Dina aku pikir yg harus dibenahi cara berpikir itu mb dinanya sndiri (maaf mb..).

bgini analisa sy..

kl status mb dina hnya IRT full time aja mungkin akan teriak2 ke suaminya “papa duit kurang nie, apa2 mahal..mas hrs giat lg dunk cr duitnya..” dsb..

bnr bgitu para bapak..omongan spt itu sering kan kt jg dengar..

tp dgn status mb yg sbg IRT jg sbg pekerja kantoran, hal ini tentu bs maklumi dunk. bahwa org kerja cr duit itu susah. udah banting tulang siang malam kaki jd kepala, kepala jd kaki sdh dijlni tetep aja pas-pasan.. jd kl hal ini diributkan drmh percuma jg kan mb.. stauku suami dtg kermh dgn harapan menemukan kedamaian dan cinta stlh lelah seharian terpaku dgn kerjaan kantor.. damai disambut istri dgn pelukan dan senyuman, bkn diberondong dgn berbagai info kl kebutuhan hdp itu naik.. heloooww… mosok gt si suami ga ngeh si.. pasti ngeh lah.. cm kan suami jg punya batas maksimal dari kemampuannya. tlg berusaha jd istri pengertian..

Mb Dina tunjukkan dunk ke suami mb dgn uang 800rb bs memenuhi kebutuhan sehari2 tnpa hrs adu otot dgn suami.

mari kt urai lbh dlm ya mb.. (maaf kl kurang berkenan..). .

kebutuhan sehari2 – apa yg plg mahal? susu.. hm..buatku susu mahal itu krn berbagai mcm kandungan vit ddlmnya, benar kan.. coba kt ubah bli susu yg kandungannya moreless sm tp lbh murah. kan tgl baca dibalik kardus itu ada komposisinya mb. tgl di tmbhkn dgn vitamin ywakkakakg sesungguhnya yaitu dgn sayuran dan buah2an yg bs dibeli dgn murah dipasar tradisional.

tagihan?

tagihan apa nie mis.nya listrik/air/ tel ya..ya ini memang hrs berhemat ya..kl boleh saran sie.. daripada ngontrak rmh (well aku ga tau yg sbnrnya krn mb tdk crita scr details).. mending tgl di PMA mb (pondok mertua indah). memang kesannya tdk mandiri ato anak mami.. tp well wong memang kt ga punya duit, peduli amat dgn kt mrk. bertahanlah 1-2th uang pasti bs dikumpulkan. tentu dunk mosok mertua/ortu ga ngerti keadaan yg ada. lbh hemat lg krn tdk perlu pembantu, kan ada ibu/mertua yg mau ikut andil menjaga anak kt..klpun mesti pake pembantu kan tdk berat2 bgt mb. kt kerja tdk perlu was2 mb.anak aman dlm perlindungan ortu sndiri.

buatku pengeluaran terbesarku (utk diriku sndiri) adlh transport.apa ini jg jd kendala utk mb dina? usulku sie pergi kektr ber2 bs mengurangi beban uang trnspt.ato klpun cari kontrakan cari yg dekat kantor. biasanya utk menghemat aku lbh suka brangkat pagi..krn bs disambi dgn jalan kaki..selain hemat naik bus, kt nya jg sehat kan..

hm..trus apa lg ya..

Mb dina, ingatlah..menabung itu bukan suatu keterpaksaan. kl memang kt blm mampu menabung ya jgn menabung. menabung itu kan bnyk mb..

menabung tuk akhirat..lbh tawakal dgn smua ini..sdh tabungan kan mb..

menabung tdk dgn uang..mis. barang..emas, motor..ini bkn brg mewah mb krn smua itu sdh bs dicicil pembeliaannya kl memang mau. kl tdk mampu beli cash mencicil jg tdk dosa kan.. spjg kt mampu dan komit dgn pembayarannya.

kl sy berpendapat sie.. sblm memikirkan menabung. alangkah wisenya kl mb menyelesaikan cicilan yg mengambil hampir dr sluruh gaji mb Dina itu. baru berpikir cara cari uang tmbhn. krn tho sgt tdk mungkin uang suami kt pake jg utk usaha.

omong2 soal usaha..stau sy bnyk ya usaha2 kecil yg bs dipergunakan… either perlu modal ato bs cm menggunakan tenaga kt.kl mb bs masak, buat kue.. bs kan dijajakan disputaran ktr.ga perlu malu mb..skrg smua org pada usaha kok. klpun ga ada modal..bs pake tenaga jg bs kan mb..

jgn coba cari utang kl ga yakin usaha akan cepat balik modal mb.. nti malah menambah beban pikiran aja. utk tenaga ini.. hm.. contohnya jd sales kartu kredit freelance.. ato jadi penjaga stan (bln ini kan ada PRJ mb..) aku yakin mb msh muda n cantik.. tdk ada salahnya kan ambil yg shift mlm. memang smua ini perlu dibicarakan dgn kepala dingin dgn suami ya.. biar tdk ada keributan nantinya. klpun menerangkan jgn pernah memojokan suami ya mb.. kasian mrk..

Keuangan yg defisit itu jg krn kt tdk mampu mengaturnya mb.. memang perlu latihan ya..gampang omong drpd perbuatannya. tp aku yakin mb dina mampu kok.

kan ditambah rasa sayang n cinta ke suami dan anak mb dina tentunya hehe.. oia ya mb.. sedikit usul yg buat suami mungkin senang.. buatlah sedikit surprise2 kecil utk membangkitkn cinta mb.. itu napa diatas aku blg uang utk rekreasi itu hrs ada.. buatku si wajib. at least 1bln skali hrs ada rekreasinya. pergi nonton.. ato nongkrong di roti bakar smbil crita2 masa pacaran cukup romantis n ekonomis kan mb.. ini utk membuat suami lbh rilex klpun hrs membicarakan soal uang yg gak pernah ada cukup2nya.. hehe. .

tdk usah parno dgn situasi yg ada mb.. terus berdoa dan berusaha.. cobaan tdk akan melebihi kemampuan umatnya asal kita mau mencoba dulu. jgn pernah malu, gengsi ato menyerah untuk mencoba sesuatu demi kebaikan dan kemajuan mb.. Peduli amat dgn kata2 org yg penting kluarga kt tau apa yg kt perbuat. slalu liatlah kebawah mb.. dluar sana msh bnyk kluarga2 yg scr financial kurang dari mb dina, tp mrk mampu hdp bahagia smp kakek nenek mb.. tdk perlu makan enak dan berkecukupan tp mrk jarang sakit tuch.. krn mnrtku terpaan2 itu yg mmbuat mrk kuat dan sehat.

tanpa krikil2 itu, kt tdk akan mampu bangkit utk menunjukkan kepada smua, kl kt bs cari Ibu RT, suami, dan wanita karier dlm wkt bersamaan.dan jgn lupa bersedekah ya mb.. wlpun cm 500perak ato seribu perak.. insyaAllah, Allah akan menggantinya dgn 500rb ato 1jt sekalipun..

Sy bukan ekonom, tp kl mb dina mau share lbh dalam.. monggo japri aja.. sy siap mendengarkan… dan men’share’ dgn apa yg sdh sy alami.. jgn pernah mengeluh krn itu cm jd hambatan dalam meraih kesuksesan.. buat sy roda sy sdh berputar 2x.. merasakan hdp mewah sdh.. merasakan hidup pas2nya jg sdh… merasakan hdp ditgl suami jg sudah.. hehe. .

banting tulang sndiri jg sudah…. mempunyai anak yg harus menjalankan operasi jantung jg sdh….

well.. sy bersyukur sekali Allah msh syg sy.. msh diksh cobaan yg begitu berat (mnrt sy), tp sy msh mampu menerjang smua itu dgn kelebihan dan kekurangan sy. buat yg lain.. punten sanget ya kl sglumit sharingan sy ini mmbuat bosan yg membacanya.

salam tegar,
my

Diambil dari : berbagai sumber

NB: Dari sepenggal surat diatas mungkin dapat sedikit mencerahkan kita semua bahwa dalam membina rumah tangga itu perlu perjuangan dan kerjasama yang baik antara semua anggota keluarga. Penulis hanya berniat menyampaikan suatu informasi yang dapat dijadikan acuan bagi anda semua bahwa kebahagiaan itu diperjuangkan bukan datang dengan sendirinya dan bersyukurlah atas segala yang kita miliki.

Ditulis dalam Ikatan, Pasutri, Rahasia Kebahagiaan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Apa yang Paling Penting dalam Perkawinan?

Posted by Siel pada 12 Juni 2009

Apa yang Paling Penting dalam Perkawinan?
–Anwar Holid

Suatu hari, aku pernah tanya seorang kawan:  “apa yang paling penting dalam perkawinan?”

Dia jawab: kebersamaan. Entah kenapa, aku langsung tertawa mendengar jawaban itu.

“Memang, menurut kamu apa?” balas dia.

“Menurutku, penghasilan, mendapatkan nafkah.”

Entah kenapa aku cukup yakin dengan jawaban itu. Boleh jadi dalam bayanganku waktu itu ialah aku teringat acara fauna di televisi. Acara itu menayangkan seekor serigala jantan membawa mangsa untuk keluarganya. Mangsa itu dia cengkeram kuat-kuat dengan mulutnya, lantas dia persembahkan pada anak-anak dan pasangannya. Setelah itu dia memperhatikan mereka berebut makanan yang dia bawa. Terdengar narasi: Pasangan dan anak-anak serigala itu senang bahwa dia pulang dengan selamat; tapi ia tahu mereka jauh lebih mengharapkan makanan yang dia bawa daripada kehadiran dirinya sendiri.

Terdengar ironik?

Meskipun cukup yakin bahwa yang paling penting dalam perkawinan ialah penghasilan, aku pada dasarnya sulit memutlakkan jawaban itu. Boleh jadi sebagian orang akan bilang bahwa yang paling penting dalam perkawinan itu ialah cinta, kasih sayang. Ha ha, dalam rumah tangga kasih sayang menurutku sudah jadi terlalu basi. Cinta dan kasih sayang sudah harus selesai sejak jauh-jauh hari sebelum pasangan menikah dan membangun rumah tangga. Tanpa itu, rumah tangga dan perkawinan berarti sia-sia.

Dulu, rasanya heroik dan menakjubkan kalau kita mendengar bahwa ada orang yang bisa hidup dengan cinta. Bisakah orang hidup dengan cinta? Nggak. Orang hanya bisa hidup dengan makanan. Tapi entah kenapa kita kok merasa agak yakin bahwa cinta bisa menyelesaikan segala-galanya. Boleh jadi memang begitu, sebenarnya, terutama orang yang terbutakan oleh cinta. Perhatikanlah perceraian suami-istri atau perpisahan sepasang kekasih, terlebih bila perpisahan itu disertai keributan, termasuk sekalian dengan kekerasan dan kemarahan yang kadang-kadang terlalu sulit dipadamkan. Kalau kita menyaksikan hal seperti itu, entahlah ada di mana cinta yang pernah tumbuh di dalam diri mereka berdua itu. Cinta jadi terasa sebagai omong kosong. Dari perceraian, ribut-ribut, cekcok, dan pertengkaran, kita tahu bahwa cinta adakalanya gagal berfungsi untuk menyelesaikan segala-galanya, dan yang tersisa hanyalah rasa sebal, jengkel, atau kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.

Di dalam perkawinan, cinta melebur ke dalam segala sesuatu, hingga ia menyelimuti atau membentengi kehidupan pasangan; tapi karena itu pula ia menjadi gaib, dan kadang kala bila sedang diperlukan ternyata ia tak segera menampakkan diri. Akibatnya, pasangan jadi kehilangan kesabaran dan menuduh dia tak lagi punya cinta. Perhatikanlah konsultasi perkawinan di media massa. Dari sana kita belajar bahwa persoalan perkawinan bisa diakibatkan hal yang sangat sederhana (misalnya kebiasaan pasangan yang ternyata lama-lama sulit diterima) maupun hal yang berat (misalnya pasangan melakukan tindak kriminal, selingkuh, berbohong, berubah orientasi seksual, atau sakit jiwa.) Kita tahu dalam perkawinan bobot masalah “sederhana” dan “berat” ternyata sama saja. Masalah adalah masalah, dan ia harus diperhatikan, sebab kalau tidak akibatnya bisa fatal.

Begitu juga dengan penghasilan. Bisakah Anda mencari contoh pasangan yang kehidupan perkawinannya baik-baik saja meski tanpa penghasilan atau tak punya nafkah? Mungkin itu akan bisa mematahkan pendapat awal. Tapi mungkin sedikit lain soalnya bila pasangan itu punya warisan atau diberi kekayaan yang terus tersedia cukup meskipun dia sekadar menghabiskan dan tak perlu kerja. Tapi dengan perilaku begitu pun bisa jadi pasangannya mengeluh, sebab kerjanya hanya “menghabiskan harta orangtua” dan terkesan malas-malasan. Boleh jadi pasangan tanpa mata pencaharian itu merupakan aib. Bayangkanlah Anda melamar seorang gadis dalam keadaan nganggur atau bila suatu hari yang akan datang anak gadis Anda dipinang pemuda pengangguran. Beranikah Anda mengizinkan anak gadis Anda kepada pemuda itu? Sehina apa pun pekerjaan Anda, Anda menolak bila mereka meremehkan pekerjaan Anda. Pekerjaan itu sesuatu yang mulia.

Demi penghasilan, sepasang suami-istri rela berpisah, mau menjalani jadi weekend husband/wife, atau bahkan merantau ke luar negeri. Dulu, aku sendiri pernah menjadi seorang weekend husband. Bila weekend husband/wife sudah dianggap lazim dalam kehidupan modern, kini tanyalah pasangan yang hanya ketemu sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau bahkan setahun sekali. Jelas karena tidak mengalami, rasanya aku sulit berempati kepada pasangan yang hanya ketemu sebulan, tiga bulan, atau setahun sekali. Buat apa dong mereka dulu memutuskan menikah? Bukankah mereka menikah untuk “bersatu”, berdekat-dekatan? Wajarkah pasangan mengorbankan kebersamaan demi mendapat nafkah, meskipun aku menyatakan penghasilan merupakan hal paling penting dalam perkawinan? Rasanya absurd. Tapi sekali lagi, bayangkanlah bila tanpa itu semua mereka tak punya penghasilan, atau itulah satu-satunya cara mereka mendapat nafkah. Kalau sudah begitu, apa boleh buat. Kita hanya bisa maklum dan
ikut berdoa supaya mereka selamat. Daripada bersatu tanpa penghasilan?

Orang menempuh berbagai mode untuk mendapat nafkah. Ada yang normal dan abnormal. Ada kalanya seseorang tak tahu persis apa pekerjaan pasangannya; tapi selama ada penghasilan, aku berani bertaruh itu akan baik-baik saja. Tanyalah pada istri para kriminal, koruptor, atau pembunuh bayaran. Mereka tentu bakal terkejut bila dibenturkan pada fakta bahwa nafkah yang selama ini mereka terima ternyata hasil dari kejahatan atau uang haram, lantas mereka bersikap tak mau tahu atau malah ingin cuci tangan secepatnya. Tapi selama tak tahu, mereka akan baik-baik saja, dan yakin sebagaimana pasangan normal lain, nafkah itu berasal dari cara yang baik.

Bila menyangkut penghasilan, orang bisa begitu emosional dan irasional. Kita sulit mengira-ngira sampai sejauh apa orang merasa bangga, baik-baik saja, terpaksa, atau rela menjalani profesinya. Boleh jadi orang bangga dengan profesi sebagai pembunuh bayaran. Siapa tahu. Bintang porno di AS bangga kok dengan profesinya. Apa sebab? Karena mereka juga bayar pajak, berpartisipasi dalam pembangunan sosial. Itu mulia. Kita yang tak mengalami mungkin bisa menertawakan atau menganggap hina kerja sebagai bandar judi, pembuat narkoba, direktur klub malam, tukang sampah, mucikari, atau bandar narkoba. Tapi kalau penghasilannya melimpah ruah, Anda mau apa? Pendapatan itu nyata. Lihatlah di jalanan, lihatlah di tempat kerja, di lapangan. Begitu menyangkut pendapatan, nyawa taruhannya. Kadang-kadang orang masih merasa kurang dengan sekadar mengandalkan kekuatan fisik. Perhatikanlah cara kerja debt collector atau tukang sita.

Pasangan pengangguran tentu sulit diterima. Jangankan penganggur, pasangan dengan penghasilan setara, tampak kurang motivasi, atau kurang berkenan saja bisa bermasalah. Dunia adalah tempat yang sulit dan keras. Nggak ada tempat buat pemalas, atau kalau tidak berubahlah jadi orang ikhlas, yang bisa bersyukur dan menerima segala keadaan. Kita dituntut menghasilkan nafkah dengan memanfaatkan segala kemampuan dan kesempatan yang memungkinkan. Dengan itulah kita memelihara perkawinan, kebersamaan, menjalankan roda kehidupan, memastikan bahwa dua puluh empat ke depan—atau beberapa tahun ke depan—keadaan cukup bisa dipastikan kesejahteraannya.

Tapi kenapa pasangan dengan nafkah berkecukupan pun kehidupan perkawinan mereka bisa hancur-hancuran? Tentu ada faktor lain entah apa lagi. Aku juga bukan ahli perkawinan. Itu menunjukkan walaubagaimanapun penghasilan ternyata bukan satu-satunya faktor paling penting dalam perkawinan. Jadi apa dong? Mungkin ada jawaban lain, yaitu keikhlasan.

Sementara keikhlasan butuh permbicaraan baru lagi.

Anwar Holid telah menikah sepuluh tahun dengan Fenfen, dikaruniai dua anak.

Jadi apakah jawaban menurut anda ?

Catatan : Cerita ini saya ambil dari email deorang teman, namun  mungkin dari sepenggal cerita ini dapat menjadi renungan yang baik bagi anda sekalian yang sudah berpasangan maupun akan berpasangan.  Semoga Bahagia selalu. ^^

Ditulis dalam Ikatan, Pasutri, Rahasia Kebahagiaan | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.